Kulon Progo (MIM Kenteng) – Madrasah/sekolah menjadi ujung tombak peradaban keilmuan dan pengetahuan bagi peserta didik yang ada di lingkungannya. Program pengembangan perpustakaan merupakan salah satu upaya dalam peningkatan budaya literasi madrasah, yang mencakup pada pendidik, peserta didik, dan seluruh warga madrasah.

Kepala MIM Kenteng, Rujito mengapresiasi kepada guru MIM Kenteng yang sudah mewakili madrasahnya. “Kami mendelegasikan 2 guru untuk ikut hadir dalam Forum Perpustakaan Nasional yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI yaitu Rita Febri Subarni dan Aisaturohmah. Kegiatan tersebut berlangsung melalui platform zoom meeting dan youtube. Keduanya mengikuti acara tersebut secara daring di Aula MIM Kenteng,” ujar Rujito di madrasahnya, Senin (29/3/2021) yang lalu.

“Besar harapan kami semoga MIM Kenteng menjadi surganya literasi bagi seluruh warga madrasah mulai dari guru, tenaga kependidikan, siswa, orangtua/wali, komite, dan juga masyarakat sekitar,” harapnya.

Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bundo dalam paparannya menyebutkan bahwa perpustakaan menjadi jantungnya literasi sekolah/madrasah. “Cyber Librarian menjadi penggerak dan peningkat indeks literasi sekolah/madrasah. Perpustakaan menjadi jantung literasi sekolah/madrasah. Perpustaakaan mengalami ciri khas pada setiap abadnya, dimulai dari Abad ke-18 Library to Management of Collection, pada Abad ke-19 Library to Management of Knowledge, dan pada saat ini yaitu Library to Transfer of Knowledge,” paparnya.

Budaya literasi sudah digalakkan sejak kepemimpinan Bung Karno dengan program pemberantasan buta aksara. Dimulai dari kemampuan mengenal huruf, kata, kalimat, menyatakan pendapat, dan hubungan sebab akibat. Dapat diprosentase bahwa 98% pendududk Indonesia buta huruf, 2% dapat membaca, dan anggaran negara sangat minim saat itu. Pada kepemimpinan saat ini memang cukup terlihat perbedaanya, sesuai dengan perkembangan zaman.

Salah satu peserta , Rita Febri Subarni menyampaikan bahwa pada saat ini budaya literasi dimulai dari adanya kemampuan aksestabilisasi digital/buku cetak untuk mendapatkan sumber-sumber informasi terlengkap, terpercaya untuk pemecahan masalah. Baik itu masalah sosial, ekonomi, hukum, kesehatan, dan lain sebagainya. “Kemampuan memahamai apa yang tersirat dan tersurat, mengungkapkan ide atau gagasan, teori, dan kreativitas serta inovasi baru. Sehingga memiliki kemampuan menganalisis informasi dan menulis buku. Dapat diprosentasekan sebanyak 96% penduduk Indonesia bisa baca, 4% buta huruf dan anggaran 20% dari APBN untuk menghidupkan literasi,” tutur Rita.

Sementara Aisaturohmah mengatakan bahwa Perpustakaan Nasional RI juga mempunyai beberapa fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh sekolah, madrasah, perguruan tinggi dengan program Layanan Konsultasi Online oleh Pusat Pengembangan Perpusnas. “Adapun bentuk pembinaan yang dilakukan adalah pada pengelolaan dan penyelenggaraan perpustakaan sesuai standar nasional, otomasi, kegiatan pengembangan, bantuan buku, bimbingan teknis, sosialiasi, lomba, pemberian nomor koko, dan forum perpustakaan sekolah/madrasah,” katanya. (ras/abi).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *