Kulonprogo (MTsN4KP) – Keisya Shafa Azahra atau akrab disapa Keisya, siswa kelas 8C MTsN 4 Kulon Progo berhasil meraih prestasi membanggakan. Ia bersaing bersama dengan siswa SMP/MTs lain di Kulon Progo dalam lomba Sesorah yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo. Alhamdulillah, Keisya berhasil membawa pulang piala dan sejumlah uang pembinaan sebab ia menduduki peringkat ketiga. Penyerahan hadiah lomba tersebut berlangsung di Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo, Jum’at (24/9/2021).

Keisya masih terharu mengenang perjuangannya untuk mempersiapkan diri ikut lomba tersebut saat wawancara dengan Jurnalis MTsN 4 Kulon Progo, Siwi Nurdiani, S.Pd. di madrasah setempat, Sabtu (25/9/2021). “Pembuatan teks pidatonya cukup lama. Saya dibimbing oleh Bapak Sukarlan, sampai sore. Setelah ada mungkin tiga kali pengubahan dan penambahan di sana-sini, akhirnya teks itu jadi. Dicoba di depan Ibu Ismi Subekti dan Bapak Sukarlan,” kisahnya.

“Saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada bapak ibu guru pendamping dan Mas Kameramennya yang sudah sabar membimbing saya dan bersedia untuk take berkali-kali, bahkan sampe ganti lokasi,” kenangnya.

Ia ingat betul bagaimana take di hari pertama gagal, kemudian diberi waktu seminggu untuk latihan lagi dan baru kemudian take lagi.

Putri dari Bagiya dan Padma Kenoko tersebut saat ini berdomisili di Kepundung, Giripurwo, Girimulyo bersama eyangnya. Dia merasa senang dapat mewakili madrasah untuk mengenalkan sastra budaya Jawa di antara derasnya arus informasi dan teknologi internet. “Harapan saya semoga generasi kita yang sekarang ini jangan sampai lupa dengan asalnya, ya mungkin kita tidak tahu di masa depan kita itu tinggal di mana, di lingkungan seperti apa, tapi jangan sampai budaya-budaya Jawa seperti tutur kata, gaya hidup kita itu luntur dengan adanya budaya luar yang terus menggempur,” tegas Keisya, gadis manis yang bercita-cita menjadi diplomat itu.

Ia sangat antusias berkisah tentang cita-cita menjadi diplomat. “Saya ingin mewakili Indonesia di kancah Internasional, dan ingin mengenalkan budaya kita yang unik ini,” tuturnya.

“Kan saya mau mewakili Indonesia, syaratnya ya harus menguasai teknologi. Kalau saya tidak bisa menguasai teknologi, bagaimana cara saya membuat nama Indonesia semakin maju,” tambahnya.

Keisya juga menuturkan pentingnya ilmu agama di era ini. “Agak sensitif, kalau lihat kondisi keagamaan di Indonesia. Semakin ke sini, semakin miris saya melihatnya. Isu antaragama dan internal agama pun terus terjadi. Termasuk perilaku yang menyimpang dari norma-norma agama seperti kasus LGBT malah dianggap biasa,” ungkap Keisya yang saat ini juga menjadi salah satu kandidat calon Ketua OSIS periode 2021/2022.

“Saya sependapat dengan pernyataan kalau kita tetap harus mencitrakan siswa madrasah sebagai generasi muda yang mempunyai paham Islam moderat. Seimbanglah, tetap ramah dan memanfaatkan sosial budaya yang ada,” jelasnya.

Di akhir perbincangan, Keisya mengungkapkan hal yang ia dapat setelah mengikuti lomba. “Banyak yang bisa saya ambil dari mengikuti lomba sesorah seperti, belajar sejarah aksara Jawa yang belum pernah diajarkan, memperbanyak kosa kata juga, latihan public speaking, latihan untuk bermusyawarah dan berpendapat, memperbaiki sikap saat berbicara, dan yang paling penting melatih kepercayaan diri,” katanya.

“Dan juga pengalaman, kapan lagi bisa bertemu Pak Bupati kalau tidak ikut lomba ini,” ujarnya sembari tersenyum. Ia merasa terharu ketika Bupati Kulon Progo menyerahkan piala untuk para pemenang. (siw/abi).

Tetap sehat dan semangat

#LawanCovid-19

3 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *